Pada
kali ini saya akan membahas sedikit yang saya tau mengenai ‘Revolusi Mental’,Revolusi
mental terdiri dari dua kata yaitu revolusi yang berarti perubahan sosial dan kebudayaan yang
berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat
direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa
kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya
relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Dan juga Mental yang berarti mental
itu terkait dengan, akal (pikiran/rasio), jiwa, hati (qalbu), dan etika (moral)
serta tingkah laku). Satu kesatuan inilah yang membentuk mentalitas atau kepribadian
(citra diri). Citra diri baik dan jelek tergantung pada mentalitas yang
dibuatnya. Jadi Revolusi Mental merujuk kepada perubahan cara berfikir cara kerja/berjuang, dan cara hidup agar selaras
dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi nasional.Dari
gabungan antara pengertian mental dan revolusi diatas kita bisa mencoba
merumuskan apa yang dimaksud dengan revolusi mental. Namun, mengingat definisi
ini harus dapat di operasionalkan maka harus diambil acuan pengukurannya. Dalam
berbagai kesempatan Jokowi sering mengutip tentang konsep Trisakti yang
dicetuskan Bung Karno pada tahun 1963. Maka konsep Trisakti Bung Karno menjadi
acuan definisi operasonal dari Revolusi MentalPresiden pertama Republik
Indonesia Soekarno dalam Pidato Trisakti tahun 1963 menegaskan bahwa Indonesia
harus 1. berdaulat secara politik
2. berdikari
secara ekonom
3.
berkepribadian secara sosial budaya
Dengan
demikian Revolusi Mental secara operasional dapat diartikan sebagai upaya untuk
melakukan perubahan mendasar dalam berbagai segi kehidupan berbangsa dan
bernegara yang akan membentuk pola pikir, sikap dan perilaku rakyat Indonesia
agar berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian
secara sosial budaya.
Kenapa
sekarang revolusi mental digagas untuk membangun bangsa?
Dapat dijelaskan bahwa lemahnya mentalitas
kepribadian membuat kebudayaan bangsa tidak memiliki jangkar karakter yang
kuat. Tanpa kekuatan karakter, Indonesia adalah bangsa besar bermental kecil;
bangsa besar mengidap perasaan rendah diri. Persoalannya sekarang, bukan soal mengharapkan
adanya perubahan yang dilakukan oleh seorang pemimpin, tapi kita harus sadar
bahwa revolusi harus melibatkan banyak orang. Karena pada dasarnya, revolusi
berarti perubahan yang bersifat mendasar, menyeluruh, dan cepat.
Untuk itu, perlu ada reorientasi dalam dunia pendidikan dengan menempatkan proses kebudayaan (olahpikir, olahrasa, olahkarsa, dan olahraga) di jantung kurikulum. Pendidikan dan kebudayaan harus dipandang sebagai proses kreatif yang tak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi dari keping uang yang sama. Bung Hatta secara tepat menyatakan bahwa yang diajarkan dalam proses pendidikan adalah kebudayaan, sedangkan pendidikan itu sendiri adalah proses pembudayaan.
Mengacu hal di atas, tentu usaha mengubah mentalitas bangsa tidak bisa
ditempuh secara instan. Misi revolusi mental harus dilakukan secara terencana,
bertahap, dan terstruktur, yang secara sinergis mentransformasikan mentalitas
dan karakter bangsa menuju kemandirian dalam ekonomi, kedaulatan dalam politik,
dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Sumber
:

0 komentar:
Posting Komentar